Poligami: Aturan dan Syarat Khusus (Sesuai Syariat Islam)

Poligami jadi obrolan yang lebih seksi ketika dibawa ke ranah politik. Salah satu partai baru yang akan bertanding di pemilu serentak 2019 nanti bahkan menjadikan topik ini sebagai inti kebijakan partai.

Banyak kalangan menentang sikap partai tersebut, bahkan ada berita yang menyebutkan beberapa kadernya mengundurkan diri karena tidak sepakat dengan sikap partai.

Barangkali kita mesti memahami terlebih dulu sebelum memutuskan mendukung atau menolak, santai-santai dulu lah baca ulasan ringan kami.

Dasar Syariat Poligami

Tentu kamu juga telah mengetahui bahwa dasar hukumnya sesuai agama islam adalah surat An Nisa’ ayat 3, kira-kira penggalannya diartikan seperti berikut ini:

“….maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat…”

Ada beberapa pihak (tentu saja laki-laki) yang kerap menjadikan hal ini sebagai lelulon lucu atau sekedar guraun ringan ‘kan masih ada 3 slot kosong…’.

Ada pula golongan lain yang tidak menolak dan tidak membenci syariat ini namun juga tidak melakukan poligami, dan tentu saja golongan ini lebih banyak.

Mereka berpegang pada penggalan ayat sama (An NIsa’: 3) dan ayat berikutnya, jauh ‘tersembunyi’ di belakang, An Nisa’ ayat 129, penjelasan lanjutannya:

“…kemudian jika kamu khawatir tidak mampu berbuat adil, maka nikahilah satu orang saja…”

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. …”

Jadi, dari faktanya saja bahwa jumlah laki-laki yang berpoligami jauh lebih sedikit ketimbang yang tidak, sudah membuktikan bahwa masalah dan kesalahannya bukan pada aturan, hukum, dan syariat agama.

Kesalahannya justru ada pada masing-masing orang yang melakukan poligami. Jadi, wacana penolakan dan pelarangan poligami adalah sesuatu yang sangat absurd.

Jika memang ada data yang menyebutkan bahwa mayoritas kasus poligami membuat pihak perempuan menderita secara psikis dan materil. Maka itu adalah jelas masalah sosial.

Oleh karena itu hal yang perlu diperketat barangkali adalah syarat hukum dan syarat sosialnya. Bukan dalam hal penolakan terhadap poligami.

Lalu, syaratnya apa aja sih sebenarnya?

Syarat Poligami

Ada beberapa syarat secara syariat dalam islam, maupun secara hukum negara. Kami akan bahas seluruhnya pada ulasan di bawah ini.

Mampu Menafkahi Lahir

Artinya segala kebutuhan istri secara lahir yang bersifat fisik harus mampu dipenuhi oleh si suami. Hal inilah yang seringkali menjadi pertanyaan dan menjadi masalah sosial di Indonesia

Jika memang menafkahi satu orang istri saja tidak sanggup, maka buat apa ia berpoligami? Jadi masalahnya jelas masalah sosial dan kesadaran si laki-laki, barangkali ia tidak mengerti benar.

Tentu saja laki-laki dengan kondisi semacam ini mesti dilarang jika ingin melakukan poligami. Dan tanggung jawab tersebut tentu ada di tengah masyarakat kita.

Mampu Berbuat Adil

Barangkali akan sangat sulit mengukur seberapakah yang namanya keadilan dari suami terhadap istri-istri.

Satu anggapan yang paling lazim di kalangan mereka yang mempraktikkan poligami adalah: adil dalam hal materi, tapi soal perasaan ‘kan tidak bisa diukur’.

Jadi, jika istri pertama diberikan nafkah sekian, maka istri kedua, tiga, empat juga mesti diberikan jumlah harta yang sama rata.

Contoh lainnya misal jatah bermalam, si suami mesti dengan adil bermalam di semua rumah atau kamar istri-istrinya. Jika jatahnya masing-masing 1 malam ya semuanya juga harus sama seimbang.

Tidak Lalai Ibadah

Menurut Al Quran juga ada salah satu ayat yang memiliki tafsir bahwa istri istri dan anak anak menjadi salah satu kemungkinan potensi lalainya ibadah seorang lelaki.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…”

Tepatnya pada surah At-Taghabun ayat 14. Padahal seharusnya syariat ini dimaksudnya agar kamu meningkat ketakwaan dan ketaatan kepada segala perintah Allah.

Sungguh tidak pantas jika hal tersebut membuat kamu lalai dalam menjalankan syariat Allah lainnya.

Mampu Menjaga Keluarga

Dalam konteks ini maksudnya adalah menjaga keseluruhannya, baik fisik maupun non fisik seperti menjaga kehormatan dan agama istri dan anak-anaknya.

Artinya harus memiliki waktu yang lebih dari cukup agar para istrinya tidak terperosok dalam keburukan dan kerusakan dunia.

Sementara menjaga secara fisik artinya ya dapat memberikan kebutuhan biologis semua istinya, sehingga tidak ada istri yang ditelantarkan haknya.

Selain itu, ada pula syarat hukumnya lho. Berikut ini ulasannya.

Izin Pengadilan Agama

Berdasarkan aturan yang ada dalam undang-undang perkawinan, setidaknya kamu mesti memenuhi syarat berikut ini;

Pertama, jika istrimu:

  • Tidak bisa menjalankan kewajiban seorang istri
  • Mengalami cacat badan atau penyakit yang tak bisa disembuhkan
  • Tidak dapat melahirkan keturunan

Kedua, jika:

  • Istri atau istri-istrimu menyetujui niat dan rencana poligami kamu
  • Kepastian bahwa kamu dapat menafkahi dan memberikan seluruh kebutuhan istri-istri dan anak-anak
  • Jaminan tentang perlakuan adil si suami terhadap istri dan anak

Jadi, sebelum memutuskan untuk benar-benar melakukan poligami, kamu mesti dengan serius mempertimbangkan banyak hal, terutama tujuan pernikahan yang sejati.

Baca pula ulasan menarik tentang nikah muda yang kami tulis, semoga bisa menjadi wawasan baru buat kamu tentang pernikahan yang baik.

Nah, buat kamu yang belum menikah, baca dulu deh cara dan proses kenalan yang benar dalam artikel taaruf yang kami tulis.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.