Khitbah: Arti, Jenis, Hadist, dan Tata Caranya (+Contoh Konkret)

Khitbah adalah proses lanjutan yang mesti kamu jalani usai sukses dengan segala tata cara taaruf. Proses ini sering dimaknai atau disamakan artinya dengan lamaran atau pertunangan.

Padahal sebenarnya terdapat beberapa hal fundamental yang berbeda antar khitbah dan pertunangan. Kita akan membahasnya secara tuntas dalam artikel ini.

Mulai dari apa itu, arti, pengertian, dan segala hal yang berhubungan dengan proses yang satu ini dalam islam. Jadi, baca semuanya sampai selesai ya.

Khitbah Adalah…

khitbah adalah

Pengertian yang lebih tepat untuk membedakan proses ini dengan lamaran dan tunangan adalah meminang, atau peminangan. Fungsi utamanya adalah:

Memastikan apakah si perempuan sudah ada atau sedang dipinang oleh laki-laki lain atau tidak

Mengapa? Karena seorang wanita yang sedang dipinang seseorang tidak diperbolehkan untuk dipinang orang lain.

Aturannya jelas, terdapat pada hadist shahih Bukhari nomor 5142 dan Musllim nomor 1412, diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu anhu.

“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang membeli barang yang sedang ditawar (untuk dibeli) oleh saudaranya, dan melarang seseorang meminang wanita yang telah dipinang sampai orang yang meminangnya itu meninggalkannya atau mengizinkannya.”

Sedangkan umumnya pertunangan lebih bersifat adat dan dilalui dengan serangkaian proses serta tata cara tertentu, misalnya tukar cincin.

Bagaimana? Sudah mengerti sekarang? Nah, khitbah nikah juga memiliki tata caranya sendiri.

Cara Khitbah

cara khitbah

Beberapa langkah yang mesti kamu lakukan jika ingin meminang seorang perempuan dengan cara ini, setidaknya mesti dilakukan dengan empat proses:

Menyampaikan Niat

Pihak laki-laki menemui wali pihak perempuan, lantai mengungkapkan maksud untuk meminang, selanjutnya menikah.

Pembicaraan Lanjutan

Kedua pihak saling menanyakan hal penting yang perlu dipastikan sebelum pernikahan, misalnya:

  • Besar mahar,
  • Cara menafkahi dan besaran nafkah,
  • Tempat tinggal,
  • Hak dan kewajiban,
  • Kondisi fisik, kesehatan, aib yang memungkinkan menimbulkan prahara pernikahan

Segala hal tersebut tidak boleh ditutup-tutupi karena bukan dalam rangka menyebarkan keburukan, tetapi untuk mencegah kemudharatan.

Pemberian Jawaban

tentu saja dibutuhkan waktu untuk menjawab, sehingga pihak perempuan tidak perlu menjawab pada saat itu juga. Tentu saja karena harus salat istikharah dan proses pemantapan hati lainnya.

Namun demikian, jawaban yang diberikan oleh pihak perempuan juga tidak boleh terlalu lama karena pihak laki-laki juga tersandera, maksudnya: menunggu itu tidak mudah lho.

Jadi, tetapkan waktu, batasi, sehingga pada berapa hari atau minggu baru dapat memberikan jawaban, karena banyak pula yang mesti dipikirkan.

Pihak perempuan juga dapat menerima secara utuh, atau memberikan syarat jika pinangan ingin diterima, hal tersebut sah-sah saja.

Pembatalan

Tentu saja pinangan boleh batal. Alasannya dapat sangat beragam, misalnya pihak perempuan selawa waktu tunggu mencari tau dan mengetahui bahwa informasi yang disampaikan pihak lelaki tidak benar.

Misalnya mengaku bujangan, tetapi sudah dan sedang beristri. Pihak laki-laki juga boleh membatalkan proses yang sedang dijalani ini.

Hal yang perlu kamu ketahui, pembatalan dapat secara sepihak maupun kesepakatan bersama jika syarat yang diberikan kedua pihak tidak dapat dipenuhi.

Contoh: masa sah khitbah, syarat dari pihak perempuan 3 bulan. Jadi, apabila dalam 3 bulan si lelaki tidak menikahi di wanita, maka secara otomatis pinangannya batal, begitu juag sebaliknya.

Jenis dan Macamnya

jenis khitbah

Dalam islam, ternyata ada dua jenis pinangan lho. Buat kamu yang belum tau, coba deh baca ulasan kami di bawah ini.

Khitbah bit al-Tashrih

Artinya, meminang seorang perempuan dengan menyampaikan perkataan yang jelas dan terang menunjukkan maksud untuk menikahi.

Syaikh Ibrahim al-Bajuri dalam kitabnya al-Bajuri mendefinisikan proses ini sebagai berikut:

tashrih adalah pinangan dengan menggunakan perkataan yang secara pasti menunjukkan keinginan untuk menikah”

Khitbah bi al-Ta’ridh

Sementara yang satu ini, artinya adalah meminang dengan cara menggunakan kalimat sindiran. Masaih dalan kitab yang sama, disebutkan bahwa:

ta’ridh adalah meminang dengan menggunakan perkataan yanng secara pasti tidak menunjukkan keinginan untuk menikah, akan tetapi hanya adaya kemungkinan untuk menikahi. Seperti seorang lelaki yang mengatakan kepada perempuan, ‘banyak orang yang suka kepadamu.’”

Nah, aturannya, seperti yang dijelaskan oleh Syaikh Abu Bakar al-Hishni dalam kitab Kifayatul Akhyar:

  1. Jika tidak dalam ikatan pernikahan atau tidak dalam masa iddah, maka boleh dipinang baik dengan cara tashrih maupun ta’ridh
  2. Jika tidak dalam ikatan pernikahan atau namun dalam masa iddah, maka boleh dipinang secara ta’ridh, namun haram secara tashrih
  3. Jika dalam ikatan pernikahan, atau masih dalam masa talak raj’i, maka haram dipinang dengan cara apapun

Boleh Lihat Saat Khitbah

yang boleh dilihat saat khitbah

Beneran boleh? Tentu saja boleh, Rasulullah saja menyuruh untuk melihat terlebih dahulu, dalam hadist riwayat Ahmad nomor 18154 dan Turmudzi nomor 1110.

“Lihat dulu calon istrimu, karena itu akan lebih bisa membuat kalian saling mencintai.”

Namun, syarat ketentuan berlaku lho ya. Mayoritas ahli fikih menyatakan bahwa yang boleh dilihat oleh lelaki pada perempuan yang ingin ia nikahi hanyalah wajah dan kedua telapak tangan.

Ada juga yang berpendapat boleh melihat bagian tubuh yang biasa nampak: kedua siku, kedua tangan, dan kedua tumit.

Bagaimana? Sudah siap menghitbah? Sudah siap dikhitbah? Pelajari juga isi buku dan kartu nikah yang akan kamu dapat setelah akad, baca di artikel buku nikah dari kami.

Nah, sambil memperbaiki diri dan mempersiapkan diri, kamu main-main dulu lah ke nikahan teman, bawa kado dan berikan ucapan yang sarat makna. Baca ulasan kami tentang ucapan pernikahan.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.