5+ Hukum Nikah yang Wajib Kamu Taati (Sesuai Syariat)

Hukum nikah perlu dipahami buat kamu yang akan melangsungkan prosesi pernikahan. Untuk menikah sendiri perlu keputusan dan niat yang mantap terlebih dahulu. Jangan sampai menikah karena gengsi.

Untuk menikah, kamu tidak boleh sembarangan. Kamu juga harus mengerti rambu-rambu pernikahan atau yang disebut dengan hukum nikah. Hal ini tentu akan banyak membantu kamu.

Rambu-rambu pernikahan penting bagi kamu sebagai pengetahuan sebelum menikah. Apa sajakah hukum nikah yang bisa kamu pelajari tersebut?

Hukum Nikah dalam Islam

hukum nikah dalam islam

Menikah adalah sebuah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW bagi kamu yang mampu melaksanakannya. Adapun hukum nikah dalam Islam adalah sunnah.

Hukum nikah merupakan sunnah sebab nikah atau menikah sangat dianjurkan oleh Rasullullah SAW. Ibadah ini ditunjukkan bagi kamu yang mampu.

Terutama bagi kamu kaum lelaki, dengan menikah maka dapat menentramkan mata dan kelamin. Sebab, obat mata dan kelamin hanya dengan menikah atau berpuasa.

Hukum Nikah Siri

Apa sih nikah siri itu? Nikah siri merupakan nikah secara diam-diam atau sembunyi-sembunyi yang bertujuan untuk dirahasiakan.

Nikah siri hanya disaksikan oleh modin dan saksi serta tidak melalui KUA. Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa nikah siri merupakan nikah dibawah tangan.

Nikah siri memang sah secara agama, akan tetapi tidak sah secara hukum. Karena tidak memiliki kekuatan hukum maka baik istri ataupun anak hasil pernikahan tersebut akan menderita kerugian.

Dapat dikatakan bahwa pernikahan semacam itu dapat memberikan dampak negatif kepada istri dan anak. Terlebih lagi mengingat hak-hak yang seharusnya mereka peroleh seperti nafkah.

Selain nafkah, istri dan anak juga akan mengalami kerugian ketika pembagian warisan. Keduanya akan sulit menuntut sebab tidak memiliki bukti catatan resmi pernikahan yang sah.

Tahukah kamu bahwa sekarang ini di Indonesia sudah marak kejadian mengenai nikah siri online. Bagaimana hukum nikah siri online?

Menurut MUI nikah siri online tidak dibenarkandalam ajaran Islam dan termasuk ke dalam kategori perbuatan yang haram dilakukan. Mengapa haram?

Haramnya nikah siri online disebabkan tidak adanya rangkaian upacara sakral seperti yang telah diajarkan oleh Islam.

Selain itu, nikah siri sendiri saja sudah diharamkan. Apalagi untuk nikah siri online. Untuk itu, kamu jangan coba-coba untuk nikah siri online, ya!

Hukum Nikah Beda Agama

mempelai pria

Meski sebuah pernikahan sunnah untuk dilaksanakan, akan tetapi untuk nikah beda agama haram dilakukan. Hukum nikah beda agama dalam Islam termasuk masalah khilafiyah dan kerap disinggung.

Mayoritas ulama dan MUI mengatakan bahwa nikah beda agama seperti halnya Islam dengan non muslim di dalam Islam adalah tidak diperbolehkan. Karena itu, sebaikya kamu jangan nikah beda agama.

Sebagian besar ulama dari 4 mahzab, MUI, NU dan Muhammadiyah sepakat bahwa nikah beda agama adalah haram. Nikah beda agama tidak sah.

MUI telah menetapkan hukum nikah beda agama adalah sebagai berikut.

  • Nikah beda agama haram dan tidak sah.
  • Pernikahan lakil-laki muslim dengan wanita ahli kitab, menurut qaul mu’tamad adalah hal yang haram dan tidak sah.

Hukum Nikah Mut’ah

perkawinan

Barangkali kamu masih awam dengan istilah nikah Mut’ah. Bagaimana jika dengan istilah nikah atau kawin kontrak? Sudah familiar, bukan?

Nikah Mut’ah atau yang familiar dengan sebutan nikah kontrak merupakan pernikahan yang dilakukan oleh sepasang manusia dengan batas waktu tertentu.

Adapun rukun nikah mut’ah berdasarkan syariat Imamiah Syiah di antaranya sebagai berikut.

  1. Shighat yakni ucapan seperti “aku nikahi engkau”, “aku mut’ahkan engkau”.
  2. Bakal istri ada dan diutamakan berasal dari wanita muslimah dan kitabiah.
  3. Adanya mahar guna pernikahan dengan syarat saling rela.
  4. Adanya batasan waktu tertentu.

Hukum nikah Mut’ah adalah haram dilakukan karena beberapa alasan sebagai berikut.

Bercampurnya Nasab

Salah satu alasan haramnya hukum nikah Mut’ah adalah bercampurnya nasab. Wanita yang telah di mut’ahkan oleh seseorang dapat dinikahi kembali oleh anaknya.

Hal tersebut berlaku secara terus menerus berketurunan.

Hasil Mut’ah Disia-siakan

Alasan berikutnya mengenai kenapa nikah mut’ah haram yaitu disia-siakannya anak hasil mut’ah atau nikah kontrak. Anak hasil mut’ah seringkali disia-siakan dengan dianggap sebagai anak hasil zina.

Nilai Wanita

Pada nikah mut’ah wanita seringkali dinilai tidak berharga. Seakan-akan wanita diperlakukan sebagai barang murahan yang dapat terus menerus dipindah tangankan dengan mudah.

Hukum Nikah Saat Hamil

nikah saat hamil

Perbuatan zina di dalam Islam dapat menyebabkan seorang wanita hamil di luar nikah. Selain itu, wanita yang hamil di luar nikah seringkali dianggap sebagai pembawa aib dan menerima sanksi sosial.

Menurut beberapa dasar hukum Islam, hukum nikah dalam keadaan hamil dianggap sah. Adapun acuan tersebut antara lain sebagai berikut.

Hadits Rasulullah SAW

“Seorang laki-laki yang dihukum jilid (cambuk) tidak akan menikah kecuali dengan yang serupa (wanita pelaku zina”. (HR Abu Dawud)

Wanita yang sedang hamil dan kemudian melaksanakan pernikahan hukumnya adalah sah. Perbuatan haram zina mereka tidak akan menghilangkan halalnya pernikahan.

Pendapat Ulama

Selain melalui hadits Rasulullah SAW, hukum nikah dalam keadaan hamil juga dibahas oleh beberapa ulama antara lain sebagai berikut.

Ulama Syafi’ah

Ulama syafi’ah beropini bahwa hukum wanita yang melalukan pernikahan di saat hamil adalah sah jika tidak ada dalil yang melarangnya.

Menurut mazhab syafi’ah menikah dalam keadaan hamil diperbolehkan. Selain itu, wanita hamil tidak memiliki masa iddah.

Ulama Hambaliyah

Berbalik dari pendapat ulama syafi’ah, ulama hanabilah berpendapat bahwa tidak sah hukumnya jika di dalam pernikahan wanita tersebut sedang hamil.

Wanita tersebut barulah boleh menikah ketika melewati masa iddahnya yaitu setelah melahirkan bayinya.

Ulama Malikiyah

Ulama malikiyah beropini bahwa wanita hamil mempunyai masa iddah atau masa istibra yakni hingga wanita tersebut melahirkan bayinya.

Apabila wanit hamil tersebut tetap melangsungkan akad nikah, maka pernikahannya menjadi tidak sah secara agama.

Ulama Hanafiyah

Ulama hanafiyah berpendapat sama seperti ulama syafi’ah yakni sah apabila wanita hamil melakukan pernikahan.

Ulama hanafiyah mengatakan bahwa tidak terdapat di dalam Al-Qur’an mengenai hukum nikah wanita hamil haram haram dinikahi.

Kompilasi Hukum Islam

Jika dikompilasikan, pernikahan disaat wanita sedang hamil adalah sah. Hal tersebut diizinkan sebab menimbang segala mudharat dan manfaatnya.

Sehingga perkawinan ataupun pernikahan yang dapat dilakukan oleh wanita hamil dan pasangan dapat dilakukan tanpa menunggu kelahiran anak.  

Bagi kamu yang sedang mempersiapkan diri dalam pernikahan maupun yang sedang ada pada proses taaruf, maka ada baiknya untuk menyimak informasi di atas.

Pada dasarnya semua pernikahan adalah baik hanya saja tujuan setiap orang untuk menikah berbeda-beda.

Sebelum menikah pastikan kamu menimbangnya berdasarkan syarat nikah. Selain itu, kamu juga bisa merencanakan konsep undangan pernikahan dan mas kawin terbaik guna acara akad nikah kamu dan pasangan.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.